sains tentang bahasa isyarat universal

cara manusia berkomunikasi saat beda bahasa

sains tentang bahasa isyarat universal
I

Bayangkan skenario ini. Kita sedang jalan-jalan di pelosok negara antah berantah. Baterai ponsel mati, dan aplikasi penerjemah tidak bisa diakses sama sekali. Perut mulai keroncongan dan kita harus mencari makan. Apa yang akan kita lakukan?

Pasti secara otomatis kita akan menunjuk perut, lalu mengerakkan tangan ke arah mulut seolah sedang menyuap sesuatu. Ajaibnya, warga lokal yang melihat kita biasanya langsung mengangguk paham.

Pernahkah kita bertanya-tanya, kenapa gestur sesederhana itu bisa dimengerti oleh hampir semua manusia di bumi? Apakah tubuh kita ini diam-diam menyimpan sebuah bahasa rahasia yang melampaui kamus dan batas negara?

II

Kemampuan kita untuk saling memahami tanpa kata-kata bukanlah kebetulan semata. Sejarah peradaban kita justru dibangun di atas fondasi tak bersuara ini.

Ratusan tahun lalu, jauh sebelum ada kelas bahasa asing atau kamus cetak, manusia sudah berdagang melintasi benua. Bayangkan pedagang rempah dari Nusantara bertemu dengan saudagar dari pesisir Eropa atau Timur Tengah. Mereka jelas tidak saling paham ucapan masing-masing, tapi transaksi tetap berjalan lancar. Mengapa bisa begitu?

Secara psikologis, manusia itu sangat socially driven. Kita punya dorongan batin yang luar biasa kuat untuk terhubung dengan sesama. Saat kata-kata gagal melakukan tugasnya, otak kita secara otomatis beralih ke mode bertahan hidup sosial. Kita mulai menciptakan teater kecil menggunakan tangan, ekspresi wajah, dan postur tubuh.

Ini terasa seperti keajaiban, tapi tentu saja sains tidak bekerja berdasarkan sihir. Ada proses kognitif yang sangat rumit saat kita sedang menggerakkan tangan untuk "berbicara". Namun, mari kita berpikir sedikit lebih kritis. Kalau sekadar meniru adegan makan atau minum, itu sangat wajar. Tapi bagaimana dengan konsep yang lebih rumit?

III

Di sinilah misterinya mulai memancing rasa penasaran. Bagaimana cara kita mengomunikasikan hal yang abstrak seperti "kemarin", "marah", atau "siapa kamu"?

Apakah saat beda bahasa kita sekadar asal menebak gerakan, atau sebenarnya ada pola tersembunyi yang secara universal mengatur cara tangan kita bergerak?

Para ilmuwan kognitif dan ahli bahasa sejak lama terobsesi dengan teka-teki ini. Mereka mengajukan sebuah pertanyaan besar: kalau sekelompok manusia dari berbagai budaya yang terisolasi diminta menciptakan bahasa isyarat dari nol, apakah hasilnya akan acak? Atau, jangan-jangan, tangan mereka akan membentuk tata bahasa yang persis sama terlepas dari bahasa ibu mereka?

Untuk membongkar rahasia ini, para peneliti melakukan serangkaian eksperimen. Mereka "membungkam" partisipan dari berbagai negara—dari masyarakat urban modern hingga suku tradisional—dan meminta mereka menjelaskan sebuah kejadian rumit hanya menggunakan gestur. Hasil dari eksperimen inilah yang mengubah total pemahaman kita tentang cara kerja otak manusia.

IV

Bersiaplah, karena jawabannya sangat menakjubkan. Ternyata, kita semua memegang blueprint atau cetak biru komunikasi yang sama di dalam otak. Konsep ini dalam sains linguistik disebut sebagai iconic gestures.

Mari kita lihat eksperimennya. Saat partisipan diminta menjelaskan adegan "seorang gadis melempar bola" tanpa bersuara, secara insting mereka tidak akan memperagakan gerakan melempar terlebih dahulu. Hampir semua partisipan dalam penelitian—baik dia orang Amerika, Indonesia, Turki, atau Spanyol—akan memperagakan "gadis" dulu, lalu "bola", baru terakhir gerakan "melempar".

Tunggu sebentar, mari kita resapi ini. Dalam bahasa Inggris atau Indonesia, strukturnya adalah Subjek-Kata Kerja-Objek (Gadis melempar bola). Namun, saat manusia dipaksa berbicara lewat isyarat murni, otak kita secara universal melakukan reset ke struktur dasar: Subjek-Objek-Kata Kerja.

Mengapa otak kita melakukan itu? Karena secara kognitif, otak kita harus menghadirkan pelakunya dulu di alam pikiran, lalu memunculkan bendanya, baru memproses apa yang dilakukan pada benda tersebut. Proses ini disebut sensorimotor simulation. Otak kita memproses realitas fisik persis seperti cara dunia nyata bekerja, sebelum merangkainya menjadi aturan bahasa buatan manusia.

Lebih kerennya lagi, di dalam kepala kita terdapat apa yang disebut mirror neurons atau neuron cermin. Saat kita melihat orang asing mengangkat tangan dengan panik untuk menunjukkan bahaya, mirror neurons di otak kita ikut menyala seolah kita sendiri yang sedang panik dan melakukan gerakan itu. Inilah fondasi biologis dari empati. Kita bisa paham gestur orang asing karena otak kita secara literal melakukan simulasi atas apa yang dirasakan oleh tubuh orang tersebut.

V

Fakta-fakta ilmiah (hard science) ini sebenarnya membawa pesan yang sangat menghangatkan hati buat kita.

Di dunia yang sering kali terasa terpecah belah oleh perbedaan bahasa, budaya, ras, dan batas geografis, tubuh manusia menolak untuk diasingkan. Otak kita dirancang sejak dari pabriknya untuk selalu mencari titik temu dengan manusia lain.

Bahasa isyarat universal yang spontan kita gunakan saat tersesat di luar negeri itu bukanlah sekadar tebak-tebakan putus asa. Ia adalah sisa-sisa dari bahasa pertama umat manusia. Sebuah bahasa murni yang tidak diucapkan lewat getaran pita suara, melainkan lewat empati dan simulasi pikiran.

Jadi, teman-teman, saat suatu hari nanti kita berada di lingkungan yang bahasanya sama sekali tidak kita mengerti, jangan buru-buru panik. Kita sudah membawa perangkat komunikasi paling mutakhir yang terinstal di otak kita sejak hari pertama kita lahir. Pada akhirnya, sekeras apa pun kita merasa berbeda dari orang lain, kemanusiaan di dalam diri kita akan selalu menemukan cara untuk saling menyapa.